selamat datang
membaca adalah jendela dunia
Senin, 31 Oktober 2011
Peluang Bisnis Kuliner Kafe Perpustakaan
Kafe tak lagi sekadar tempat nongkrong. Kafe bisa juga menjadi tempat menimba ilmu pengetahuan. Kafe-kafe ini muncul di Cimahi dan Surabaya. Selain menyediakan aneka kudapan nan lezat, di kafe ini juga punya koleksi buku pelajaran dan buku pengetahuan populer.
Jika Anda merasa bosan belajar sendiri di rumah, tak ada salahnya belajar sambil nongkrong di kafe. Lo, kok? Ya, di Cimahi dan di Surabaya, ada kafe yang tak sekadar memanjakan perut, tapi juga mengasah otak.
Kafe itu akrab disebut dengan kafe perpustakaan. Selain menyediakan aneka kudapan lezat seperti laiknya sebuah kafe, di sini juga tersedia aneka buku pelajaran sekolah atau buku-buku sekadar untuk menambah pengetahuan.
Lihat saja aktivitas Kafe Kupu-Kupu di Cimahi, Jawa Barat. Kafe yang mengusung konsep perpustakaan ini didirikan oleh Yayuk Sri Wahyuni pada 2009 silam.
Yayuk punya dua alasan membuka usaha kafe perpustakaan itu. Pertama, dia ingin menyajikan hidangan yang lezat. Kedua, Yayuk juga ingin menjamu tamu kafenya dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. "Dua rasa lapar yang kami layani di kafe, lapar perut dan lapar pengetahuan," klaim Yayuk.
Latar belakang pengunjung Kafe Kupu-kupu itu beragam, mulai dari anak sekolahan sampai keluarga. Nah, bagi keluarga yang datang bersama anak-anak, Yayuk juga sudah menyediakan sarana bermain. "Mereka bisa bermain saat orang tua mereka makan atau membaca," jelas Yayuk.
Sama seperti kafe lainnya, kafe milik Yayuk itu juga menyajikan aneka makanan yang mengundang selera. Di sini ada sajian nasi timbel, nasi goreng, cap cay hingga makanan ala barat seperti steik dan pasta.
Soal harga makanan juga relatif terjangkau, mulai dari harga Rp 3.000 hingga yang termahal hanya Rp 38.000 per porsi, tergantung pesanannya. Untuk minuman tersedia aneka soft drink, dan juga teh, kopi, jus, milk shake, dan sebagainya.
Karena mengusung konsep perpustakaan, Yayuk tentu menyediakan aneka buku bacaan, mulai buku pengetahuan anak, buku sosial, buku politik, dan juga buku tentang filsafat. "Konsumen yang datang, gratis membaca buku yang kami sediakan tapi tidak boleh dibawa pulang," terang yayuk.
Selain menyediakan buku, Kafe Kupu-kupu itu juga menyediakan fasilitas wi-fi alias internet gratis yang bisa dimanfaatkan pengunjung kafe sepuasnya. Berkat usaha ini, Yayuk mampu mendulang omzet minimal sebesar Rp 50 juta saban bulan.
Selain di Cimahi, di Surabaya juga ada kafe perpustakaan bernama Magnet Zone Bookstore and Kafe. Kafe itu sudah melayani pelanggan sejak 2007 silam. Selain memiliki sajian ala kafe, Magnet Zone Bookstore and Kafe menyediakan aneka ragam buku dan menyediakan tempat seminar serta mini theater.
Untuk mendatangkan pengunjung, pihak pengelola juga rajin mengadakan pameran, bedah buku, dan bedah film. Selain itu kafe sering dijadikan lokasi talk show, diskusi interaktif, hingga perlombaan menulis, menggambar, dan juga parade musik.
"Banyak kegiatan membuat pengunjung tidak bosan untuk datang," terang Nurholis, Kepala Keuangan Magnet Zone Bookstore and Kafe. Selain menyediakan buku bacaan gratis, Nurholis juga menjual buku-buku terbitan terbaru dengan harga diskon. "Tempat kami tak hanya menarik bagi pecinta buku saja, tapi bagi mereka yang ingin berkarya dan menambah pengetahuan," imbuh Nurholis.
Sayangnya, dia enggan menyebut besar omzet yang didapat dari Magnet Zone saban bulannya. (Dea Chadiza Syafina, Ragil Nugroho/Kontan)
KOMPAS.com
Kamis, 27 Oktober 2011
Pemusnahan Arsip Biro Keuangan dan Peresmian Galeri Arsip
Pemunahan Arsip diselengggarakan di Halaman Depo Arsip Badan Perpustakaan Kearsipan dan Dokumantasi provinsi Kalimantan Barat jl. Sultan Syahrir No. 17 Pontianak, pada hari Kamis, 27 Oktober 2011. Melalui Pemusnahan Arsip dan Peresmian Galeri Arsip kita jadikan sarana Pembelajaran Masyarakat. Acara ini di buka oleh Kepala BPKD Provinsi Kalimantan Barat, Marselinus Kutjai Apin di lanjutkan oleh sambutan Bapak Gubernur yang di wakilkan oleh PLH Sekda, Kartius.
Sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1979 tentang penyusutan Arsip pada pasal 7 menyebutkan Lembaga – lembaga Negara atau Badan – badan pemerintah dapat melakukan pemusnahan arsip yang tidak mempunyai nilai kegunaaan dan telah melampaui jangka waktu penyimpanan, sebagaimana tercantum dalam peraturan Gubernur Nomor 467 tahun 2005 mengenai jadwal retensi arsip pemerintah Kalimantan Barat.
Pemusnahan arsip adalah Tindakan atau kegiatan menghancurkan secara fisik arsip yang sudah berakhir fungsinya serta yang tidak memiliki nilai guna dan dilakukan secara total, yaitu dengan cara dibakar, dicacah atau dengan cara lain sehingga tidak dapat lagi dikenal, baik isi maupun informasi yang terkandung didalamnya.
Maksud dilaksanakan pemusnahan arsip adalah untuk mengurangi volume arsip yang telah tercipta yang tidak memiliki nilai guna primer dan sekunder melalui penilaian sesuai dengan peraturan perundang – undangan sehingga arsip yang bernilai guna dapat diselamatkan.
Obyek Arsip yang dimusnahkan berasal dari biro keuangan yang tercipta tahun 1970 sampai dengan tahun 2000, dengan jumlah 2.527 boks dan 14.072 berkas.
Pemusnahan Arsip secara simbolis dilakukan oleh Kartius dan dilanjutkan penandatanganan peresmian Galeri Arsip Badan Perpustakaan, Kearsipan dan Dokumentasi Provinsi Kalimantan Barat yang disaksikan oleh Biro Hukum, Inspektorat, dan Keuangan.
Senin, 24 Oktober 2011
Kunjungan SDIT Al-Mumtaz ke Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat
Pagi ini (24/10), Sekolah Dasar Ibtidaiyah Al-Mumtaz berkunjung ke Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat. Dengan jumlah 90 orang siswa/i Kelas 1 terdiri dari 3 kelas, kelas 1A, 1B dan 1C dan di dampingi 10 guru. Mereka sangat antusias sekali. Kunjungan ini di sambut baik oleh pustakawan di lingkungan Perpustakaan Bapak Erwin Sitorus, Ibu Welasati beserta staf lainnya. Dalam kesempatan ini para siswa di berikan penjelasan mengenai Perpustakaan secara umum di ruangan Aula Badan Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat, kemudian dilanjutkan dengan melihat buku – buku koleksi anak di ruangan anak, dan melihat – lihat buku koleksi remaja di gedung depan. Kunjungan ini bertujuan untuk memberikan dan memperluas pengetahuan siswa tentang sistem perpustakaan untuk menumbuhkan minat dan cinta siswa terhadap buku.
Rabu, 28 September 2011
Terima Bantuan 4.000 Buku
Mempawah –
Kantor Perpustakaan Daerah dan Arsip Kabupaten Pontianak menerima bantuan 4.000 eksemplar buku dari Pemprov Kalbar. Buku akan disalurkan untuk empat perpustakaan. Penyerahan bantuan untuk mendukung program gerakan Kalbar membaca.
“Bantuan buku ini sangat strategis dalam upaya memajukan, dan meningkatkan minat baca masyarakat. Buku akan kita manfaatkan dengan sebaik mungkin untuk menyukseskan program gerakan Kalbar membaca yang dicanangkan Pemprov Kalbar,” kata Plt Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah, Johana Sari Margiani, kemarin.
Sebanyak 4.000 eksemplar buku tersebut, ungkap Johana, akan disalurkan ke perpustakaan keliling, Perpustakaan Rumah Ibadah Masjid Nikmatullah Kecamatan Sungai Pinyuh, Rumah Baca Sungai Pinyuh, dan Taman Baca Keluarga (PKK) TP PKK Kabupaten Pontianak.
“Masing-masing perpustakaan akan menerima bantuan 1.000 eksemplar buku. Nah, dengan bertambahnya koleksi buku-buku baru ini, diharapkan dapat menambah gairah masyarakat untuk datang ke perpustakaan dan membaca. Sehingga akan memberikan manfaat ilmu pengetahuan kepada masyarakat,” harapnya.
Johana, mengucapkan terima kasih kepada Pemprov Kalbar yang telah mengalokasikan bantuan buku tersebut, untuk perkembangan dan kemajuan minat baca masyarakat Kabupaten Pontianak khususnya dan Kalbar umumnya.
“Atas nama Pemkab, saya mengucapkan terima kasih atas kepedulian Pemprov Kalbar terhadap perpustakaan di Kabupaten Pontianak. Buku-buku ini akan memotivasi kami untuk senantiasa meningkatkan minat baca masyarakat guna terciptanya sumber daya manusia berkualitas,” tuturnya.
Terkait program gerakan Kalbar membaca, Johana sangat apresiasi dan mengaku siap bekerja maksimal untuk merealisasikan program itu dengan sebaik mungkin. Dia menilai, program tersebut sangat strategis dalam memajukan minat baca masyarakat di masa akan datang.
“Tentu saja kami sangat mendukung. Siap menyukseskan program gerakan Kalbar membaca ini. Saya yakin jika ada keseriusan dan kesungguhan dari seluruh pihak, maka program yang telah dicanangkan Gubernur Cornelis itu mampu terealisasi dengan baik, sebagaimana diharapkan,” tukasnya optimis. (hry)
sumber : equator-news.com
Kantor Perpustakaan Daerah dan Arsip Kabupaten Pontianak menerima bantuan 4.000 eksemplar buku dari Pemprov Kalbar. Buku akan disalurkan untuk empat perpustakaan. Penyerahan bantuan untuk mendukung program gerakan Kalbar membaca.
“Bantuan buku ini sangat strategis dalam upaya memajukan, dan meningkatkan minat baca masyarakat. Buku akan kita manfaatkan dengan sebaik mungkin untuk menyukseskan program gerakan Kalbar membaca yang dicanangkan Pemprov Kalbar,” kata Plt Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah, Johana Sari Margiani, kemarin.
Sebanyak 4.000 eksemplar buku tersebut, ungkap Johana, akan disalurkan ke perpustakaan keliling, Perpustakaan Rumah Ibadah Masjid Nikmatullah Kecamatan Sungai Pinyuh, Rumah Baca Sungai Pinyuh, dan Taman Baca Keluarga (PKK) TP PKK Kabupaten Pontianak.
“Masing-masing perpustakaan akan menerima bantuan 1.000 eksemplar buku. Nah, dengan bertambahnya koleksi buku-buku baru ini, diharapkan dapat menambah gairah masyarakat untuk datang ke perpustakaan dan membaca. Sehingga akan memberikan manfaat ilmu pengetahuan kepada masyarakat,” harapnya.
Johana, mengucapkan terima kasih kepada Pemprov Kalbar yang telah mengalokasikan bantuan buku tersebut, untuk perkembangan dan kemajuan minat baca masyarakat Kabupaten Pontianak khususnya dan Kalbar umumnya.
“Atas nama Pemkab, saya mengucapkan terima kasih atas kepedulian Pemprov Kalbar terhadap perpustakaan di Kabupaten Pontianak. Buku-buku ini akan memotivasi kami untuk senantiasa meningkatkan minat baca masyarakat guna terciptanya sumber daya manusia berkualitas,” tuturnya.
Terkait program gerakan Kalbar membaca, Johana sangat apresiasi dan mengaku siap bekerja maksimal untuk merealisasikan program itu dengan sebaik mungkin. Dia menilai, program tersebut sangat strategis dalam memajukan minat baca masyarakat di masa akan datang.
“Tentu saja kami sangat mendukung. Siap menyukseskan program gerakan Kalbar membaca ini. Saya yakin jika ada keseriusan dan kesungguhan dari seluruh pihak, maka program yang telah dicanangkan Gubernur Cornelis itu mampu terealisasi dengan baik, sebagaimana diharapkan,” tukasnya optimis. (hry)
sumber : equator-news.com
Bimtek Pengelola Perpustakaan Sekolah Kabupaten/Kota se Kalbar
Badan Perpustakaan, Kearsipan dan Dokumentasi Provinsi Kalimantan Barat menyelenggarakan Bimtek Pengelola Perpustakaan Sekolah Kabupaten/Kota se Kalbar
Sekolah merupakan Lembaga Pendidikan yang mencetak sumber daya manusia yang cerdas dan beriman. Keberadaan sekolah tentu harus di dukung oleh fasilitas lain yang salah satunya adalah perpustakaan. Perpustakaan sekolah harus mampu menjadi pusat informasi dalam mendukung proses kegiatan belajar mengajar. Pemanfaatan perpustakaan sekolah pada umumnya belum optimal, dan belum semua guru menghubungkan tugas mengajarnya dengan perpustakaan. Pelaksanaan Bimtek Pengelola Perpustakaan Sekolah Kabupaten / Kota se Kalimantan Barat bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dasar di bidang perpustakaan, meningkatkan sikap profesional para pengelola perpustakaan sekolah. Bimtek Pengelola Perpustakaan Sekolah berjumlah 30 orang masing – masing sekolah diikuti oleh 1 peserta pengelola perpustakaan yang berasal dari kabupaten /Kota di Provinsi Kalimantan Barat yang terdiri dari :
1.Kota Singkawang 3 Sekolah
2.Kabupaten Kubu Raya 2 Sekolah
3.Kabupaten Pontianak 2 Sekolah
4.Kabupaten Bengkayang 3 Sekolah
5.Kabupaten Sambas 3 Sekolah
6.Kabupaten Landak 3 Sekolah
7.Kabupaten Sanggau 2 Sekolah
8.Kabupaten Sekadau 2 Sekolah
9.Kabupaten Melawi 2 Sekolah
10.Kabupaten Kapuas Hulu 2 Sekolah
11.Kabupaten Sintang 2 Sekolah
12.Kabupaten Ketapang 2 Sekolah
13.Kabupaten Kayong Utara 2 Sekolah
Masing – masing Jenjang Sekolah :
SD = 9 Sekolah
SLTP = 11 Sekolah
SLTA = 10 Sekolah
Pengajar pada kegiatan Bimtek ini adalah para Pejabat Struktural dan para Pustakawan di Lingkungan Badan Perpustakaan, Kearsipan dan Dokumentasi Provinsi Kalimantan Barat. Penyelenggaraan Bimtek Pengelola Perpustakaan Sekolah dilaksanakan selama 3 hari, yaitu dari tanggal 19 September sampai 21 September 2011, bertempat di Hotel Gajah Mada No. 177 – 183 Pontianak.
Sekolah merupakan Lembaga Pendidikan yang mencetak sumber daya manusia yang cerdas dan beriman. Keberadaan sekolah tentu harus di dukung oleh fasilitas lain yang salah satunya adalah perpustakaan. Perpustakaan sekolah harus mampu menjadi pusat informasi dalam mendukung proses kegiatan belajar mengajar. Pemanfaatan perpustakaan sekolah pada umumnya belum optimal, dan belum semua guru menghubungkan tugas mengajarnya dengan perpustakaan. Pelaksanaan Bimtek Pengelola Perpustakaan Sekolah Kabupaten / Kota se Kalimantan Barat bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dasar di bidang perpustakaan, meningkatkan sikap profesional para pengelola perpustakaan sekolah. Bimtek Pengelola Perpustakaan Sekolah berjumlah 30 orang masing – masing sekolah diikuti oleh 1 peserta pengelola perpustakaan yang berasal dari kabupaten /Kota di Provinsi Kalimantan Barat yang terdiri dari :
1.Kota Singkawang 3 Sekolah
2.Kabupaten Kubu Raya 2 Sekolah
3.Kabupaten Pontianak 2 Sekolah
4.Kabupaten Bengkayang 3 Sekolah
5.Kabupaten Sambas 3 Sekolah
6.Kabupaten Landak 3 Sekolah
7.Kabupaten Sanggau 2 Sekolah
8.Kabupaten Sekadau 2 Sekolah
9.Kabupaten Melawi 2 Sekolah
10.Kabupaten Kapuas Hulu 2 Sekolah
11.Kabupaten Sintang 2 Sekolah
12.Kabupaten Ketapang 2 Sekolah
13.Kabupaten Kayong Utara 2 Sekolah
Masing – masing Jenjang Sekolah :
SD = 9 Sekolah
SLTP = 11 Sekolah
SLTA = 10 Sekolah
Pengajar pada kegiatan Bimtek ini adalah para Pejabat Struktural dan para Pustakawan di Lingkungan Badan Perpustakaan, Kearsipan dan Dokumentasi Provinsi Kalimantan Barat. Penyelenggaraan Bimtek Pengelola Perpustakaan Sekolah dilaksanakan selama 3 hari, yaitu dari tanggal 19 September sampai 21 September 2011, bertempat di Hotel Gajah Mada No. 177 – 183 Pontianak.
Halal BiHalal di lingkungan BPKD Prov. Kalbar
Acara Halal Bihalal di lingkungan Badan Perpustakaan Kearsipan dan Dokumentasi Provinsi Kalimantan Barat terselenggara pada tanggal 19 September 2011 di gedung Aula BPKD Prov. Kalbar, di hadiri oleh segenap karyawan dan karyawati serta anggota Dharma Wanita Unit Badan Perpustakaan Kearsipan dan Dokumentasi Prov. Kalbar. Kegiatan ini di buka oleh PJW Drs. H. Muhyiddin, M.Si., kemudian di isi dengan ceramah/tausiah oleh Ustadz Uzla Maulana dari Jakarta. Dalam tausiahnya Ustadz Uzla Maulana mengatakan bahwa Halal Bihalal merupakan moment yang paling tepat bagi kita untuk saling maaf bermaafan kepada seluruh saudara kita, tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan masyarakat, karena dalam Al – Qur’an Surah Ali – Imran ayat 133 – 134 sangat tegas mengatakan bahwa karakter atau ciri dari orang yang bertakwa itu ialah orang – orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang – orang yang berbuat kebajikan. Ayat tersebut juga menjelaskan dengan anjuran untuk senang berinfak, bersedekah baik di waktu lapang maupun sempit. Dan tidak kalah pentingnya karakter orang bertakwa itu adalah mereka yang mampu menahan amarah dan mau memaafkan kesalahan orang lain serta menjaga tali silaturahmi.. Acara Halal Bihalal ini di tutup dengan salam salaman antar karyawan karyawati BPKD Provinsi Kalimantan Barat...
Senin, 12 September 2011
Hari Kunjung Perpustakaan: Membangun Kedekatan antara Perpustakaan dengan Masyarakat
”Hari Kunjung Perpustakaan, ada ya kak? Hehe, aku yang mahasiswa Ilmu Perpustakaan ajah baru tahu lho kak…”
Ya, sebagian besar masyarakat Indonesia barangkali tidak banyak yang mengetahui bahwa 14 September adalah Hari Kunjung Perpustakaan. Adanya Hari Kunjung Perpustakaan ini dapat dikatakan memiliki tujuan untuk membangun kedekatan antara perpustakaan dengan masyarakat, menciptakan masyarakat yang gemar membaca dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Berbicara mengenai kedekatan antara masyarakat dengan perpustakaan memang masih banyak yang perlu dibenahi. Hingga saat ini, minat masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan masih dikatakan rendah. Rendahnya minat berkunjung ke perpustakaan hampir selalu dikaitkan dengan rendahnya minat baca masyarakat. Namun demikian, perlu dipertanyakan pula bagaimana dengan perpustakaannya sendiri, apakah memang penting untuk sering dikunjungi?
Fungsi Perpustakaan dan Peran Pustakawan
Baiklah, kesampingkan dahulu pertanyaan tersebut. Kita masuk pada fungsi perpustakaan sebagai tempat belajar sepanjang hayat bagi masyarakat di sekitarnya. Perpustakaan merupakan tempat bagi masyarakat untuk belajar secara mandiri dalam menjawab permasalahan kehidupan dan mengembangkan kualitas hidupnya. Perpustakaan sebagai tempat belajar sudah dipahami berbeda dengan sekolah. Perpustakaan sebagai sarana belajar non formal membebaskan peserta belajar dalam memenuhi kebutuhannya akan pengetahuan, sedangkan sekolah tentunya telah mempunyai kurikulum untuk peserta belajar.
Dari perbedaan di atas, tentulah disadari pula bahwa dalam mencerdaskan masyarakat di sekitarnya pustakawan bukanlah guru yang memerankan peran utama dalam mentransfer pengetahuan kepada peserta belajar. Akan tetapi, pustakawan dapat menjadi fasilitator dalam proses belajar. Dimana pustakawan dapat menumbuhkan dorongan dalam diri peserta belajar/masyarakat keinginan untuk melakukan proses penemuan sepanjang hidupnya terhadap apa saja yang memang dibutuhkannya untuk diketahui.
Jika peran pustakawan sebagai fasilitator dalam proses belajar bagi masyarakat disepakati, selanjutnya di dalam penyelenggaraan perpustakaan peserta belajar/masyarakat juga perlu dilibatkan. Hal ini dikarenakan berdirinya perpustakaan tidak terlepas dari keinginan masyarakat dalam melakukan proses penemuan sepanjang hidupnya terhadap apa saja yang memang dibutuhkannya untuk diketahui. Dengan demikian, peran pustakawan adalah menjaga dan memfasilitasi kebutuhan dan keinginan masyarakat tersebut. Pengadaan buku-buku atau koleksi pun dapat dipecahkan bersama-sama antara pustakawan dengan masyarakat melalui kajian bersama mengenai apa-apa yang dibutuhkan itu.
Sederhananya, perpustakaan perlu dikelola secara partisipatif oleh masyarakat dengan adanya fasilitasi dari pustakawan. Hal ini dikarenakan oleh latar belakang keberadaannya sebagai sarana belajar secara mandiri dan sepanjang hayat bagi masyarakat. Kalau ini dapat diterima dan dijalankan dengan baik, maka permasalahan seperti rendahnya kunjungan masyarakat ke perpustakaan bisa jadi dapat terpecahkan. Karena barangkali pula rendahnya tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan lebih disebabkan oleh penyelenggaraan perpustakaan yang terlalu kaku dan tidak adanya keselarasan antara kehadiran perpustakaan (baik keberadaannya sendiri dan koleksi yang ada) dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Atau dalam bahasa yang lebih lugas, perpustakaan seperti itu memang tidak penting untuk sering-sering dikunjungi. Ini berarti pula bahwa rendahnya kunjungan masyarakat ke perpustakaan tidak selalu harus disimpulkan bahwa minat baca/belajar masyarakat itu rendah.
Mengembangkan Kemampuan Pustakawan
Pustakawan juga merupakan bagian dari masyarakat belajar yang perlu terus-menerus belajar dan berinovasi bersama-sama masyarakat untuk maju dan mengembangkan pengetahuannya. Karena tidak jarang pustakawan kadang justru mandeg dalam belajar atau mengembangkan pengetahuan dan tertinggal dari masyarakatnya. Karena itu, pengetahuan yang penting bagi pustakawan salah satunya adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi diri dan masyarakat terkait dengan kebutuhannya dalam menghadapi berbagai tantangan. Artinya, pustakawan juga perlu mengembangkan diri dalam pengetahuan menggunakan sumber-sumber informasi yang cepat dan tepat.
Pengembangan perpustakaan dengan partisipasi masyarakat juga tidak dapat terlepas dari kemampuan pustakawan dalam melakukan fasilitasi kepada masyarakat. Di dalam memfasilitasi masyarakat tentunya seorang pustakawan perlu mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Di samping itu juga perlu kemampuan menganalisa yang baik tentang berbagai hal yang terkait dengan permasalahan masyarakat belajarnya. Dengan demikian, diharapkan dapat terbangun kedekatan antara perpustakaan dengan masyarakat di sekelilingnya. Dan pustakawan tidak lagi digambarkan seperti gambaran masyarakat awam pada tahun-tahun yang lampau dimana pustakawan selalu diasosiasikan sebagai penjaga buku yang kaku di dalam ruangan berdebu, pendiam, dan tidak ramah.
Langganan:
Postingan (Atom)
